Beda Polri Dulu dan Sekarang: Menguak Perubahan di Tubuh Kepolisian

Admin/ September 8, 2025/ berita

Dulu, tubuh kepolisian seringkali dianggap sebagai alat kekuasaan yang represif dan berjarak dari rakyat. Hal ini terutama terlihat pada era Orde Baru, di mana peran Polri lebih fokus pada stabilitas keamanan nasional daripada pelayanan sipil. Wewenang yang terpusat sering menimbulkan citra kaku dan otoriter di mata publik.

Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) telah mengalami evolusi signifikan dari masa lalu hingga saat ini. Perubahan ini mencakup berbagai aspek, mulai dari struktur organisasi, tugas pokok, hingga pendekatan dalam melayani masyarakat. Perbedaan ini mencerminkan dinamika sosial dan kebutuhan zaman yang terus berkembang.

Saat ini, terjadi pergeseran paradigma yang fundamental dalam tubuh kepolisian. Reformasi Polri, yang dimulai pasca-1998, bertujuan untuk mengembalikan fungsi Polri sebagai pelayan dan pelindung masyarakat. Pemisahan Polri dari TNI menjadi tonggak penting dalam upaya ini.

Polri kini lebih mengedepankan pendekatan humanis dan profesional. Pelayanan publik menjadi prioritas utama. Hal ini dapat dilihat dari berbagai inovasi seperti Samsat Online, SIM Online, dan laporan polisi digital yang mempermudah masyarakat. Transparansi dan akuntabilitas juga terus ditingkatkan.

Perbedaan yang paling menonjol adalah hubungan antara polisi dan masyarakat. Dahulu, hubungan ini cenderung hierarkis dan penuh segan. Masyarakat sering merasa takut atau enggan berinteraksi dengan aparat.

Namun, kini, tubuh kepolisian berusaha membangun kemitraan yang lebih erat dengan masyarakat. Program-program seperti “Polisi Sahabat Anak” dan “Patroli Dialogis” adalah contoh nyata dari upaya mendekatkan diri. Polisi sekarang lebih sering hadir di tengah-tengah komunitas untuk berdiskusi dan mencari solusi bersama.

Aspek lain yang berubah adalah fokus penegakan hukum. Jika dulu penegakan hukum seringkali bersifat top-down dan kadang diskriminatif, sekarang lebih ditekankan pada keadilan restoratif. Ini menunjukkan komitmen Polri untuk tidak hanya menghukum, tetapi juga memulihkan kerugian dan menjaga harmoni sosial.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Isu profesionalisme, integritas, dan penanganan kasus sensitif masih menjadi pekerjaan rumah. Publik terus menuntut tubuh kepolisian yang lebih bersih dan berwibawa.

Transformasi ini adalah proses berkelanjutan. Perubahan dari masa lalu ke sekarang menunjukkan kemajuan, namun perjalanan menuju Polri yang ideal masih panjang. Penting bagi kita untuk terus mendukung reformasi ini dan mengawasi perkembangannya.

Share this Post