Hati-Hati Scan QR Code! Polres Dago Awasi Modus Quishing Viral
Secara teknis, modus ini bekerja dengan cara yang sangat halus dan manipulatif. Pelaku kejahatan biasanya menempelkan stiker kode palsu di atas kode yang asli, misalnya pada meja restoran, area parkir, hingga mesin ATM. Ketika masyarakat melakukan scan QR code tersebut, mereka tidak diarahkan ke menu pembayaran resmi, melainkan ke sebuah situs web tiruan yang dirancang sangat mirip dengan aslinya. Di situs inilah, pelaku akan mencoba mencuri data pribadi, informasi perbankan, hingga akses ke akun media sosial korban. Kecepatan dan kemudahan pemindaian justru menjadi celah keamanan yang dimanfaatkan oleh para peretas.
Perkembangan teknologi pembayaran dan pertukaran informasi digital telah membawa kita pada penggunaan kode matriks dua dimensi yang sangat praktis. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul ancaman baru yang kini tengah menjadi sorotan otoritas keamanan. Fenomena ini dikenal dengan istilah quishing, sebuah metode penipuan yang memanfaatkan kode respons cepat untuk mengarahkan korban ke situs berbahaya. Menanggapi keresahan masyarakat, Polres Dago secara aktif memperketat pengawasan terhadap peredaran kode-kode mencurigakan yang terpasang di ruang publik, guna mencegah jatuhnya korban akibat kelalaian dalam memindai data digital.
Pihak Polres Dago mengungkapkan bahwa tren kejahatan ini mulai viral karena banyak masyarakat yang masih memiliki literasi digital rendah mengenai keamanan kode. Banyak orang berasumsi bahwa kode yang tercetak dan tertempel di tempat umum selalu aman. Padahal, memverifikasi alamat tautan (URL) setelah melakukan pemindaian adalah langkah wajib yang seringkali diabaikan. Jika tautan yang muncul terlihat asing, memiliki karakter yang aneh, atau tidak menggunakan protokol keamanan yang standar, masyarakat diminta untuk segera membatalkan akses tersebut dan melaporkannya kepada pihak pengelola tempat atau kepolisian terdekat.
Selain pencurian data, modus quishing juga sering digunakan untuk menyebarkan perangkat lunak berbahaya atau malware secara otomatis. Begitu kode dipindai, ponsel korban bisa saja mengunduh file tersembunyi yang mampu mengambil alih kendali perangkat atau memantau setiap ketikan pada layar. Hal ini tentu sangat berbahaya bagi keamanan saldo di aplikasi perbankan digital. Oleh karena itu, pengawasan yang dilakukan oleh kepolisian tidak hanya terbatas pada patroli fisik, tetapi juga melalui edukasi siber kepada para pelaku usaha agar rutin memeriksa keaslian kode pembayaran yang mereka sediakan bagi pelanggan.
